Jumat, 02 Agustus 2019

Berbahagialah Bersama Sedihmu

Berbahagialah Bersama Sedihmu!

Itok Aman



Sore kemarin, aku termangu di beranda kenang. Merenungkan sesuatu untuk kubicarakan pada waktu. Pernah ada seseorang yang padamu benar-benar percaya, denganmu lukanya dilupakan, sedihnya dipulihkan, semoganya diaminkan. Kau satu-satunya orang yang dipilih hatinya sebagai malaikat saat ia terpuruk, mengangkatnya kala jatuh, menguatkan kala lemah. Dengan tanpa perasaan kau mengabaikannya. Perhatiannya tak pernah kau peduli, kepeduliannya tak pernah kau perhatikan. Pada saat jantungnya berhenti berdetak, langkahnya dalam benakmu tak lagi memihak. 

Di sana kau merindukan perhatiannya, kau merindukan kepeduliannya. Kau ingin peduli pada perhatiannya. Untuk apa semua itu? Dia sudah pergi jauh sebelum beberapa menit setelah kau sadar. Layakkah kau untuk meratap kecewa? Masih pantaskah kau merasa kehilangan?

Seseorang itu adalah aku yang kau hempas. Usah kau keluhkan semuanya lagi. Doakan saja apa yang akan kau kerjakan, kerjakan saja apa yang telah kau doakan. Biar aku saja yang mendoakanmu dari tulusku yang sembunyi pada bilik paling sunyimu.

Di sini aku sudah bahagia tanpa kecewa padamu. Di sana, entah kau kecewa tanpa bahagia bersamaku. Bukan bagianku lagi. Sudah kubiarkan kau bahagia dengannya sebagai jalan terburuk atas pilihanmu sendiri. Perasaan kita sudah berbeda, pelukan kita sudah ke lain perasaan. 

Maaf, tangismu bukan urusanku lagi. Kata-kata rindu yang kau ucap sudah basi di telingaku, sebab mulutku sendiri terlalu rajin mengucapkannya padamu dulu. Bahagiaku jangan jadi sedihmu. Bukankah itu tujuanmu sampai kau tega memilih dia daripada aku?

Dan sampailah kau di telaga senja yang menjadikanmu sebagai ranting-ranting patah oleh buih angin yang meniup perlahlan. Seperti misalnya bila kau tengah dirundung lara, merindukan aku yang terlalu sering berkorban untukmu walau debur cintamu bukan aku yang rasakan. 

Sakit, memang. Tapi bagiku berkorban untukmu adalah sebuah kesibukan yang paling menyenangkan. Sebab sedetik dekat denganmu, hanya sedetak debar jantungmu yang kurasa, bagiku itu adalah hal sepeleh yang menenangkan. Walau di setiap detak jantung itu kau memanggil nama yang lain. Tak peduli aku di sebelahmu.

Dan sampailah kau di telaga senja yang nestapa. Saat kekasihmu yang sekarang begitu angkuh menciptakan riak hujan di bola matamu, begitu keji menutupi bahagiamu. Begitu ego untuk tak peduli pada sedihmu. Dan kau merindukan bau badanku, mulai mencari jejak parfumku yang mungkin kau pikir masih menempel di setiap helai benang bajumu, merindukan gerai rambutku, seolah-olah kau tak sabar menjambak rambutku sebagai cengeng yang paling suka kau buat padaku saat itu.

Aku menyodor sesendok bakso ke arah mulutmu, tepat saat kau ingin melahapnya lalu aku sengaja memasukkannya ke mulutku sendiri dan kau membalas dengan lekuk bibir yang membentuk cemberut-cemberut manja. Kau mengenang hal gila itu sebagai romantis yang tak akan kau dapatkan lagi. Sebab bersamanya kau tak akan mengulanginya lagi.

Nyatanya bukan kau kan yang dia ceritakan sebagai kesayangan. Kau hanya raga yang dianggap ikhlas telah siapkan hati dan telinga untuk mendengar ceritanya, tentang segala sedih dan prestasi yang diraihnya sendiri tanpa peduli bagaimana perasaanmu sendiri. Kau berbicara tapi tak didengar, kau bersuara tapi telinga di sekitarmu sedang menikmati tuli yang sengaja.

Dan sampailah kau pada rindu yang tak berbalas. Saat kau sadar aku sudah bukan untukmu lagi. Sudah kubiarkan kau bahagia dengannya sebagai pilihan terburukmu sendiri. Di sini aku mengurus bahagiaku dengan makan tepat waktu menyiapkan tenaga untuk menerima cinta yang baru, minum kopi paling pahit tanpa kububuhkan gula. Sebab aku selalu seperti hidupku yang tak pernah dengan kejam menghina rasa pahit. Itu. Itu kebiasaanku saat mengenalmu dulu yang terbawa sampai sekarang menjadi sebuah kebiasaan kecil. Sebab bagiku manis semanis-manisnya kopi yang dicampur gula tetapi manis sesungguhnya adalah seorang gadis yang aku dambakan saat itu. Ya kamu. Satu-satunya hanya kamu yang aku dambakan sebagai kesayangan walau melepasmu sebagai sebuah kerelaan yang paling berat.

Rindumu tak lagi kubalas.
Biasanya aku yang selalu pertama bilang rindu padamu. Tapi maaf! Itu dulu.
Bukan sekarang...!!!

Dan sampailah kau pada sebuah kesepian paling patah saat merindukan riuh suara tawa kita. Sampai-sampai ibu kos-mu mengusirku saking terlampau ributnya aku di beranda kosanmu saat mengunjungmu setiap malam minggu yang tak sadarkan diri sampai dini hari. Kau merindukan larut malam yang ramai di antara sunyi saat berdua denganku.

Sekarang kau begitu merindukanku sampai karbondioksida mengendap nyaman begitu lama menjadi kesesakan di dalam dadamu.
Maaf, tangismu bukan urusanku lagi. Bahagiaku jangan jadi sedihmu. Seperti apapun kau sekarang, seingatku kau selalu bahagia. Sebab dia yang kau pilih bukan aku.

Di sana tidurlah bersama sedihmu, di sini aku memastikan hati yang paling ikhlas tanpa takut binasa untuk menemukan cinta yang setia dengan seseorang yang aku tunggu-tunggu. Intinya bukan kau. Aku sudah memutuskan untuk tak mau sibuk dengan menghubungimu lagi, linimasaku di beranda media sudah penuh dengan kenalan baru yang menciptakan bahagia bersamaku dengan begitu mengharu biru tanpa peduli emoticon jantung merah dan jempol biru yang kau sengaja bubuhkan di setiap postinganku untuk memancing hasratku menghubungimu lagi. Tidak. Aku tidak mungkin melakukan itu lagi.

Sudah kupastikan diriku sendiri untuk bekerja tekun setekun-tekunnya, fokus sefokus-fokusnya sampai pada sukses yang sesukses-suksesnya aku menjadi sebuah penyesalan yang paling deras meruntuhkan keputusanmu sendiri kala memilih pergi. Sekarang. Selamat menikmati penyesalanmu sendiri.

Bila kau sudah memiliki momongan yang rewel kadang bawel tapi manja semanja-manjanya kamu padaku dulu, jangan lupa perkenalkan dia denganku. Ceritakan padanya bahwa ada seorang Pemuda yang begitu patah kala kehilanganmu dulu dan begitu bahagia saat mengikhlaskanmu sekarang.

Selamat menikmati lukamu di antara barisan gelanggang kenang yang tengah tergenang. Walau dengan siapapun kau bersanding sekarang, bagiku kau pernah menjadi yang tersayang. Terima kasih! Bila tiada luka yang pernah menyerang, belum tentu aku sekuat sekarang.

Rabu, 03 April 2019

Apa Kabar Adikku? (Sepotong Rindu)


Hai, Adikku. Apa kabar kamu sekarang?
Ada salam yang selalu hangat, dari jalanku yang sekarang terselip rindu dan doa yang terdalam.
Bagaimana tidurmu, nyenyak? Semoga ada dongeng-dongeng yang dibacakan untuk pengantar lelapmu. Rindukah kau akan cerita-ceritaku yang mengisi senggang waktu permainanmu?
Bila rindu, dengarlah ini, sekali lagi yang kutulis tentang kita.
Untukmu;

Pada siang dan malam, isi doaku tetap sama; semoga hari-harimu masih tetap selalu indah. Pada detak detik, hilir musim berganti, sama saja; isi rinduku masih tentangmu.
Aku selalu diam-diam menyebut namamu tanpa permisi pada setiap perbincanganku dengan Tuhan. Entah kau percaya atau tidak, hal yang paling membahagiakan saat aku berdoa adalah menyempatkan diri mendoakanmu. Menyatukan mimpi dan harapan kita pada sekalimat yang kubisikkan dalam hening di telinga Tuhan. Kau dan aku adalah jauh yang didekatkan rindu, jarak yang disatukan doa.

Satu ranjang dua raga berpeluk dalam satu selimut, ada mimpi-mimpi kecil yang sengaja kita rangkai sebelum terlelap. Bila terik angkasa membakar tanah, ragamu nyaris dikuasai angkara, permadani telah siap kubentangkan. Bila sedih menghantuimu, candaku menciptakan tawa di bibirmu. Kau adalah malaikat tak bersayap yang Tuhan ciptakan, dikirim langsung lewat rahim Ibumu yang dinikahi Bapakku. Apa kau tahu? Semenjak kehadiranmu, sekarang aku percaya bahwa matahari itu ada dua; yang satu menerangi bumi dan yang satu menerangi gelap dalam pikiranku. Itu adalah kamu.

Maafkan daku, Adik.
Saat kita masih bersama, entah sengaja atau tidak aku pernah membuatmu menangis. Membuatmu berteriak dengan lengking suara khasmu, bahkan hingga aku dimarahi oleh Ibu dan Bapak kita. Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untukmu sedikit paham dengan pikiranmu yang masih sepolos itu, bahwa di saat jauh dan mata kita sedang tak saling mampu bertatap, tangan kita tak saling bergandeng, raga kita tak saling merengkuh berpeluk, lantas bersekat jarak dan waktu. Kau akan paham bahwa pertengkaran-pertengkaran kecil itu yang membuatmu mengerti arti dari kerinduan. Perlahan kau akan sadar seiring bergulirnya waktu, bahwa bertahan dalam rindu membuatmu kuat dan sabar dalam menunggu untuk bertemu.
Kau tetap tabah. Kau tetap sabar. Oleh jalan yang kupilih kini kau akan lebih kuat dari Dilan dan Milea sebab mereka terlalu lemah untuk menahan rindu.

Tidak hanya kau, sama aku juga rindu saat kau belajar membaca, saat aku mengajarimu bagaimana cara berterima kasih atas setiap pemberian, seperti apa memulai bersyukur dalam sebuah doa. Aku merindukan itu.

Apa kau tahu yang kupikirkan sekarang?
Aku masih cemas, aku masih takut. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi kakak yang baik untukmu bila mimpiku belum menjadi nyata, sedang usiamu semakin melabrak waktu beranjak remaja? Tolong, bantu aku dengan doa-doa dari suara hati kecilmu agar sesal ini tak terus menghantuiku. Sebab yang kubayangkan sekarang, bila aku tidak bisa menafkahi kedua orang tua kita, setidaknya aku bisa membelimu selembar baju dan celana, bila rejeki sedikit lebih aku bisa membelikan sandal walau tidak sampai memberimu sepatu. Biar cukup aku saja yang memakai baju dari baju yang bekas dipakai Bapak, celananya yang sudah sesak dipakainya cukup sampai di badanku saja, kamu jangan. Semoga aku bisa memberimu yang baru, dengan beberapa mainan untukmu juga, agar kau tak lagi malu dengan teman-teman sepermainanmu, juga tak hanya menggigit jari menatap mereka memeluk mainan-mainan mewah yang dibelikan orang tua mereka. Bagaimana aku tidak berbangga pada kau yang tak pernah protes dengan keadaan kita, Dik?

Sungguh!
Berulang kali aku mengucap syukur sebab beruntung memiliki adik tiri sepertimu, yang tak seperti pada dongeng, yang tak seperti cerita-cerita tetangga dan orang-orang di sekitar kita. Kau tidak pernah menjelek-jelekkan aku di hadapan Ibumu. Walaupun aku dengan begitu tega mencubitmu hingga menangis, kau tidak pernah menceritakannya di hadapan Ibu dan Bapak. Bahkan bila aku dimarahi, malah kau yang menangis, bila aku dicueki malah kau yang paling peduli, bila ada orang-orang yang mencemoohku di hadapanmu malah kau yang membelaku. Kapan aku bisa melakukan itu untukmu?

Apa kau tahu, Adik?
Saban hari setahun lebih setelah kepergian Ibuku, waktu itu Bapak berencana menikah lagi. Aku memang setuju, aku senang, sebab Bapak punya alasan untuk tetap kuat bertahan. Dia ingin mencari seorang Ibu yang memerhatikan kami menghidangkan makanan dan menyuguhkan kopi, membuat keluarga kami sempurna kembali. Jujur, sebenarnya hati kecilku sedikit takut, nuraniku seperti tak begitu sanggup menerima bila ada sosok perempuan lain yang menggantikan posisi Ibuku di rumah. Aku takut kehadiran Ibu Tiri bila saja kasih sayangnya terbagi dan cintanya tak seperti cinta Ibu kandungku sendiri.

Sekarang aku sadar. Aku benar-benar merasa berdosa, seolah hebat dan punya kuasa menghakimi kehendak Tuhan. Pada saat-saat membayangkan kekeliruanku itu, sekarang aku seperti kecil di hadapanmu, lebih pantas aku di bawah telapak kakimu. Sebab kau telah mengajarkan cinta yang luar biasa dengan cara yang paling beda. Aku akui, soal cinta dan bijaksana, selain kedua orang tua kita, kau lebih layak jadi teladan, kau pantas jadi panutan. Kau yang selalu aku banggakan di setiap puisi cinta dan rindu yang kutulis.
Maukah kau tersenyum dan memelukku bila kelak saat aku pulang ke rumah, memeluk sambil berbisik di telingamu sepatah “terima kasih” telah menjadi guru untukku?

Aku masih bertualang di jalan yang panjang, mencari jati diri sebelum menuju panjang. Selagi kau yang masih di rumah, buatlah mereka tersenyum oleh tingkahmu, ciptakan tawa yang meriah di bangsal yang kubilang kumal itu. Semoga kau masih melakukan kebiasaanmu, menyalakan lilin-lilin kecil di makam Ibuku, menyebut beberapa kata-kata doa, mengikhlaskan jiwanya berbahagia di surga dengan para malaikat.

Masih ada banyak yang ingin kutulis, kau akan selalu menjadi bagian dari judul-judul indah dalam setiap kisahku. Bila esok atau lusa ada yang memarahimu, ada yang membuatmu menangis, ada yang membuatmu malu hingga menciut, ceritakan padaku maka ia akan terluka.

Kelak bila rambutku memutih, kulitku mulai keriput; berkenankah kau merawatku sampai habis nafasku? Andai aku sudah tak mampu berbuat banyak, atau aku hilang tak berkabar, maukah kau merawat Bapak dan Ibu untuk kita? Maukah kau menjaga bagianku seperti merawat bagianmu yang telah diwariskan kepada kita?

Kelak bila waktumu tiba untuk bertualang, ada saat yang tepat kembali mengenang, saat itu pikiranmu berkata pada perasaanmu sendiri “bila tiada derita yang pernah menyerang, belum tentu aku sekuat sekarang.”

Terima kasih!
Untuk Ibumu yang telah mencintaiku yang sama seperti menyayangimu tanpa pilih kasih, untuk hadirmu di tengah keluarga kita. Beberapa orang mungkin berpikir kau bukan siapa-siapa, tapi bagiku mereka tak seberapa dibanding kamu. Anda aku hebat dalam cinta mencintai seorang gadis, maka akan kuceritakan padanya; bahwa bersamamu aku belajar mencintai dengan penuh ketulusan.

Selamat ulang tahun, Adikku. Jadilah lebih baik dariku. Jadilah yang terbaik untuk dirimu. Bapak, Mama, kami kakak-kakakmu, akan selalu sayang dan tetap bangga padamu.

Untukmu yang tersayang.
Terima kasih. Terima kasih seribu.

________

Jakarta, 04 April 2019.

Senin, 01 April 2019

Pemilu Bukan "Pemicu Pilu"

Seperti apakah politik di mata kita - masyarakat yang aktif sebagai pengguna media sosial, menonton berita dan talk show juga perdebatan para politikus di televisi? Apakah kita pernah membaca atau mengenang kembali jejak-jejak perjalanan politik para tokoh ini? Pernahkah kita memikirkan hal-hal sederhana lewat perjalanan mereka agar bisa dijadikan sebagai referensi yang reflektif dalam kehidupan kita bermasyarakat yang demokratis dan damai?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana di atas, mari kita lihat secara sederhana bagaimana pergerakan-pergerakan para tokoh politik yang berseteru lewat perdebatan-perdebatan hangat yang memancing emosional (kita) masyarakat yang mereka pertontonkan lewat media selama ini.

Prabowo itu dulunya CAWAPRES pasangan Megawati pada pilpres 2009. Fadli Zon itu juru kampanye Jokowi dan Ahok dengan baju kotak-kotaknya di pilgub DKI 2012. Anies Baswedan itu tim sukses Jokowi-JK juga mantan Menteri Pendidikan. Sebelumnya Anies juga peserta CAPRES versi konvensi Partai Demokrat. Sekarang lengket sama Prabowo dan PKS. Padahal dulu Anies berkali-kali dituding syiah oleh PKS.

SBY itu mantan Menterinya Megawati. Maju CAPRES duet JK didukung Surya Paloh.
PILPRES berikutnya giliran JK maju sebagai CAPRES duet Wiranto melawan SBY dan Boediono yg didukung Aburizal Bakrie. Lalu ke mana Aburizal Bakrie? Sekarang berteman sama Prabowo yang dulu kompetitornya di PILPRES 2009 dan lucunya teman dengan Rachmawati yang notabene musuh besar pengusaha dan para militer.

Masih ingat Amien Rais? Ini lebih unik lagi. Menggulingkan Gus Dur sehingga Megawati naik sebagai presiden padahal sebelumnya paling tidak sudi Megawati jadi Presiden. Dia berusaha keras agar Gus Dur jadi Presiden.

PILPRES berikutnya dengan jargon guru dan anak petani melawan SBY dan Prabowo di PILPRES 2004 dan 2009. Sekarang Amien Rais akrab dengan Prabowo di kubu oposisi. Padahal zaman '98 Amien Rais ini target Letnan Jenderal Prabowo untuk diamankan.

Bagaimana dengan PKS? Semua juga sudah tahu ceritanya. Para kader gila-gilaan black campaign menjatuhkan Prabowo di pilpres 2009 dan pilkada DKI 2012. Lalu sekarang? Berteman akrab sama Gerindra yang selama zaman SBY adalah musuh bebuyutan. Waktu itu PDIP dan Gerindra oposisi, sementara PKS masuk koalisi di satuan gabungan SBY.

Yusuf Kalla berkata di media TV tidak setuju dengan Jokowi bila jadi presiden dan berkata bisa hancur negeri ini kalau dipimpin oleh Jokowi, tetapi sekarang? Anda pun tahu posisi jabatannya sekarang. Wakil Presiden, Gaessss...!

Ali muchtar Ngabalin dulu paling berkoar membanggakan Prabowo dan menggilas abis Jokowi dan para pendukungnya. Tapi sekarang jadi staf ahli kepresiden Jokowi.

Siapa lagi ya?
Hmm... Sedikit keluar konteks politik.
Ahmad Dhani. Dulu geger dengan FPI karena masalah lambang agama di cover albumnya, lalu bikin lagu "laskar cinta" untuk menyindir FPI. Dan sekarang? Anda juga tahu pergerakannya.

Jadi jangan kaget kalau saja, mana tahu, besok-besok Bang Jonru jadi pembela Pak Jokowi. Denny Siregar jadi pembela Pak Prabowo. Nothing is Impossible! Makanya hukum bermain politik itu "if you know the rule of the game, just enjoy playing the game."

Karena dalam alam politik tidak ada kawan sejati, atau musuh abadi. Yang ada cuma kepentingan abadi.

Mari kita yang rakyat biasa ini ingat selalu bahwa politik itu permainan yang dinamis. Maka jangan korbankan kawan, sahabat, saudara hanya karena berbeda pilihan politik. Ambil sikap yang wajar-wajar sajalah.

Serta yang paling penting, jangan libatkan anak-anak kita dalam urusan pilihan politik.
Para kawula dewasa silakan berdebat hebat dengan segala teori tapi biarkan anak-anak itu tumbuh dengan dunianya. Dunia bermain dan bergembira tanpa peduli latar belakang suku, agama, ras dan antar golongan serta pilihan pilkada atau PILPRES bapak ibunya.

Ayolah, Saudaraku.
Jangan wariskan generasi pendendam. Jaga sedikit adab bicara ketika mau berkomentar. Siapapun kita ataupun mereka tidak ada yang tahu siapa yang lebih mulia, andai kita tidak suka tetaplah berkomentar dengan sopan, jangan gunakan kata 'anjing, babi, cebong, kampret' dan kata sesat lainnya, bukan apa-apa yang saya takutkan jika kita meninggal dalam keadaan lupa akan meminta maaf kepada orang yang telah kita maki dan kita hujat, jadi jangan jadikan diri kita korban sebagai orang yang merugi di dunia.

Karena berbeda pendapat itu wajar dalam alam demokrasi, yang jadi masalah ketika memaksakan kehendak kita dan menjelek-jelekkan yang lain. Ini yang salah.

Intinya siap kalah dan menang tanpa harus menghujat siapapun apalagi hanya sesama rakyat biasa. Karena dalam tubuh ini ada yang paling peka dan berpengaruh yaitu hati. Jagalah hati masing-masing dan jangan biarkan ia retak.

Ada masyarakat yang paham soal ini hingga politik yang hakikatnya mulia mereka setarakan dengan kebohongan dan tipu muslihat. Ada yang tidak paham soal ini hingga ikut arus 'peperangan' politik dan menafsirnya secara murni. Lawan ya lawan, sama halnya dalam perang. Dasarnya tentu saja dibangun dengan curiga dan permusuhan. 

Masih mau seperti itu? Sudah banyak orang yang mencoba mencairkan kebekuan pertikaian politis masyarakat yang kian mengeras dan membeku-membatu. Sayangnya, mereka bisa jadi belum sampai pada ulasan yang sederhana ini. Sebelum kita menentukan pilihan dan memperdebatkan siapa tokoh yang layak jadi pemimpin, selayaknya kita (sebagai masyarakat awam dalam politik) perlu membuka semua 'hubungan gelap' pada dunia perpolitikan Indonesia yang penuh mafia (yang sebenarnya memang hakikatnya eviden dan visibel).

Benar adanya bahwa politik bukan lagi sebagai sebuah seni yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan namun juga (mungkin saja) dibentuk dalam rangkai kepentingan (para elit) tentunya. Yang membuat mereka terhubung secara otomatis dan ramah adalah kepentingan. Saya pikir tak perlu dijelaskan panjang-lebar lagi.  Tulisan ini sudah sangat sederhana, mudah ditafsirkan sebagai bahan refleksi yang positif.

Sebagian besar masyarakat sudah jadi korban demokrasi lewat pemilu, juga dirugikan dengan masalah yang sebenarnya hampir luput dari pemahaman kita sendiri.

Jadi, kalau tahun politik berlangsung, kita cukup mengamat-amati saja. Tentukan pilihan dengan hati nurani tanpa harus terlalu jauh memperdebatkan dengan saudara-saudara kita agar tidak menimbulkan perpecahan. Berpendapat seperlunya, berargumentasi sewajarnya. Yang paling penting menjaga keutuhan persaudaraan yang solider. Dan, menjadi masyarakat yang cerdas.

Jangan terlalu banyak berdebat soal politik. Masa mau dipermainkan para mafia. Saya pikir urus babi dan kambing di kandang, kerbau di sawah,  dan bersihkan gulma tanaman lebih penting. Eh, jauh lebih penting maksudnya.

Sebab PEMILU (PEMILIHAN UMUM) adalah bentuk nyata dalam sikap demokratis yang dilakukan secara LUBER, bukan pemilu (yang menciptakan pilu oleh sikap-sikap politik yang berlebihan sehingga menimbulkan perpecahan di antara masyarakat).
Salam sadar, kritis, dan cerdas. Selamatkan diri kita, tetangga, sahabat, keluarga, kenalan dan orang-orang terdekat lainnya.

Mati Ketawa Cara Orang Miskin

Berbahagialah Bersama Sedihmu

Berbahagialah Bersama Sedihmu! Itok Aman Sore kemarin, aku termangu di beranda kenang. Merenungkan sesuatu untuk kubicarakan pada...